Kata
Pengantar
Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah ke hadirat
Allah swt. Serta limpahan rahmat,
hidayat, dan inayah-Nya, makalah tentang kurikulum dan perkembangannya telah
selesai disusun untuk memenuhi tugas psikologi belajar.
Makalah kurikulum dan perkembangannya ini, saya susun
dengan maksud agar dapat dijadikan sebagai referensi, bacaan, ataupun dijadikan
bahan dalam usaha meningkatkan pengetahuan tentang kurikulum dan
perkembangannya secara mendasar. Karena kurikulum memeganh kedudukan kunci
dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses
pendidikan, yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu
lembaga pendidikan.
Adapun isi makalah ini secara lengkap mencakup tentang
pengertian, landasan, komponen, dan prinsip-prinsip kurikulum, serta
model-model dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Makalah ini juga
disusun dengan tujuan membantu para pembaca atau siapapun yang berminat dalam
pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan, untuk menambah wawasan
tentang apa, mengapa, dan bagaimana pengembangan kurikulum.
Akhirnya, kepada para pembaca atau siapapun yang arif
dan bijaksana sangat diharapkan oleh penulis berupa kritik atau saran untuk
kebaikan dan kesempurnaan makalah ini agar nantinya tidak ada kesalah-pahaman.
Tak lupa pula penulis minta maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan makalah
ini.
Semarang, 2011
Muclis Zaenul Ihsan
|
Daftar Isi
KATA
PENGANTAR.................................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
belakang.................................................................................................. 1
B. Rumusan
masalah............................................................................................ 2
C. Tujuan............................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kurikulum..................................................................................... 3
B. Landasan
Kurikulum....................................................................................... 5
C. Komponen
dan Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum........................... 12
D. Model-Model
Pengembangan Kurikulum..................................................... 19
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................................
25
B. Saran..............................................................................
.................................. 26
DAFATAR PUSTAKA................................................................................................
27
|
Kata
Pengantar
Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah ke hadirat
Allah swt. Serta limpahan rahmat,
hidayat, dan inayah-Nya, makalah tentang kurikulum dan perkembangannya telah
selesai disusun untuk memenuhi tugas psikologi belajar.
Makalah kurikulum dan perkembangannya ini, saya susun
dengan maksud agar dapat dijadikan sebagai referensi, bacaan, ataupun dijadikan
bahan dalam usaha meningkatkan pengetahuan tentang kurikulum dan
perkembangannya secara mendasar. Karena kurikulum memeganh kedudukan kunci
dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses
pendidikan, yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu
lembaga pendidikan.
Adapun isi makalah ini secara lengkap mencakup tentang
pengertian, landasan, komponen, dan prinsip-prinsip kurikulum, serta
model-model dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Makalah ini juga
disusun dengan tujuan membantu para pembaca atau siapapun yang berminat dalam
pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan, untuk menambah wawasan
tentang apa, mengapa, dan bagaimana pengembangan kurikulum.
Akhirnya, kepada para pembaca atau siapapun yang arif
dan bijaksana sangat diharapkan oleh penulis berupa kritik atau saran untuk
kebaikan dan kesempurnaan makalah ini agar nantinya tidak ada kesalah-pahaman.
Tak lupa pula penulis minta maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan makalah
ini.
Semarang, 2011
Muclis Zaenul Ihsan
|
Daftar Isi
KATA
PENGANTAR.................................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
belakang.................................................................................................. 1
B. Rumusan
masalah............................................................................................ 2
C. Tujuan............................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kurikulum..................................................................................... 3
B. Landasan
Kurikulum....................................................................................... 5
C. Komponen
dan Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum....................... 12
D. Model-Model
Pengembangan Kurikulum..................................................... 19
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................................
25
B. Saran..............................................................................
.................................. 26
DAFATAR PUSTAKA................................................................................................
27
Kata
Pengantar
Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah ke hadirat
Allah swt. Serta limpahan rahmat,
hidayat, dan inayah-Nya, makalah tentang kurikulum dan perkembangannya telah
selesai disusun untuk memenuhi tugas psikologi belajar.
Makalah kurikulum dan perkembangannya ini, saya susun
dengan maksud agar dapat dijadikan sebagai referensi, bacaan, ataupun dijadikan
bahan dalam usaha meningkatkan pengetahuan tentang kurikulum dan
perkembangannya secara mendasar. Karena kurikulum memeganh kedudukan kunci
dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses
pendidikan, yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu
lembaga pendidikan.
Adapun isi makalah ini secara lengkap mencakup tentang
pengertian, landasan, komponen, dan prinsip-prinsip kurikulum, serta
model-model dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Makalah ini juga
disusun dengan tujuan membantu para pembaca atau siapapun yang berminat dalam
pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan, untuk menambah wawasan
tentang apa, mengapa, dan bagaimana pengembangan kurikulum.
Akhirnya, kepada para pembaca atau siapapun yang arif
dan bijaksana sangat diharapkan oleh penulis berupa kritik atau saran untuk
kebaikan dan kesempurnaan makalah ini agar nantinya tidak ada kesalah-pahaman.
Tak lupa pula penulis minta maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan makalah
ini.
Semarang, 2011
Muclis Zaenul Ihsan
Daftar Isi
KATA
PENGANTAR................................................................................................ i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
belakang.............................................................................................. 1
B. Rumusan
masalah......................................................................................... 2
C. Tujuan............................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kurikulum................................................................................... 3
B. Landasan
Kurikulum.................................................................................... 5
C. Komponen
dan Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum........................ 12
D. Model-Model
Pengembangan Kurikulum................................................... 19
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan....................................................................................................
25
B. Saran..............................................................................
............................. 26
DAFATAR PUSTAKA..............................................................................................
27
BAB I
|
|
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Standarisasi
dan profesionalisme pendidikan yang sedang dilakukan dewasa ini menuntut
pemahaman berbagai pihak terhadap perubahan yang terjadi dalam berbagai
komponen sistem pendidikan. Kebijakan pendidikan yang semula dilakukan secara
sentralisasi telah berubah menjadi desentralisasi, yang menekankan bahwa
pengambilan kebijakan pendidikan berpindah dari pemerintah pusat ke pemerintah
daerah, yang berpusat dipemerintahan kota dan kabupaten. Ini berarti kewenangan
penyelenggaraan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah berada di
pundak pemerintah kota dan kabupaten sehingga penyelenggaraan pendidikan akan
diwarnai oleh kebijakan dan political will pemerintah daerah, yang dituangkan
dalam peraturan daerah (perda). Agar dalam pelaksanaannya tidak terjadi
kesimpangsiuran dalam menafsirkan kewenangan yang diberikan, dituntut pemahaman
semua pihak terhadap berbagai kebijakan yang digulirkan, baik dalam lebel
makro, meso, maupun mikro.
Desentrasi
pendidikan digulirkan sejalan dengan kebijakan makro pemerintah, yakni otonomi
daerah sehingga pusat-pusat kekuasaan dilimpahkan kewenangannya kepada daerah
kota dan kabupaten. Bahkan dalam pendidikan, kewenangan ini menerobos
batas-batas kota dan kabupaten sehingga menembus satuan pendidikan dan sekolah
dalam berbagai jenis dan jenjang pendidikan.
Standar
nasional pendidikan berfungsi sebagai pengikat kurikulum tingkat satuan
pendidikan (KTSP) yang dikembangkan oleh setiap sekolah dan satuan
pendidikan diberbagai wilayah dan
daerah. Dengan demikian, implementasi KTSP di setiap sekolah dan satuan pendidikan akan memiliki warna
yang berbeda satu sama lain, sesuai dengan kebutuhan wilayah dan daerah masing-masing.
Namun demikian, semua KTSP yang dikembangkan oleh masing-masing sekolah dan
daerah itu, akan memiliki warna yang sama, yakni warna yang digariskan oleh
standar nasional pendidikan (SNP). Hal ini sejalan dengan falsafah bhinneka
tunggal ika sehingga pendidikan yang diimplementasikan secara beragam tetap
dapat dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa. Hal penting yang perlu
ditekankan disini adalah apa yang harus dilakukan, dan bagaimana caranya, serta
siapa yang harus dilibatkan agar setiap perubahan kurikulum dapat
diimplementasikan secara efektif dalam proses pembelajaran disekolah.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.
Apa pengertian kurikulum?
2.
Apa landasan kurikulum?
3.
Apa komponen dan prinsip-prinsip pengembangan
kurikulum?
4.
Bagaimana model-model pengembangan kurikulum?
C. Tujuan
1.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan.
2.
untuk memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa
dalam menyikapi perkembangan teknologi dan tuntutan masyarakat.
3.
Untuk memudahkan guru dalam mengoptimalkan pencapaian
tujuan.
4.
Untuk mengetahui arti dan landasan kurikulum.
5.
Untuk mengetahui komponen dan prinsip-prinsip
pengembangan kurikulu.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan
yang mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara-cara yang digunakan
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu. Sedangkan Pengembangan kurikulum adalah istilah yang
komprehensif, yang mana didalamnya mencakup beberapa hal diantaranya adalah:
perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal
membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan
untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik.
Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha
mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi
kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan
seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program
yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri. Dalam
pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung
dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang,
seperti: politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur – unsur
masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.
Selain harus memperhatikan unsur-unsur diatas, di
dalam mengembangkan sebuah kurikulum juga harus menganut beberapa prinsip dan
melakukan pendekatan terlebih dahulu, sehingga di dalam penerapannya sebuah
kurikulum dapat mencapai sebuah tujuan seperti yang di harapkan.
Adapula beberapa pandangan tentang kurikulum dari para ahli, yaitu: Dalam pandangan klasik, lebih menekankan kurikulum
dipandang sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran dan
materi apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum. George A.
Beauchamp (1986) mengemukakan bahwa : “ A Curriculun is a written document
which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the
education of pupils during their enrollment in given school”. Dalam
pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman
atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan
oleh Caswel dan Campbell (1935) yang mengatakan bahwa kurikulum … to be
composed of all the experiences children have under the guidance of teachers.
Dipertegas lagi oleh pemikiran Ronald C. Doll (1974) yang mengatakan bahwa : “
…the curriculum has changed from content of courses study and list of subject
and courses to all experiences which are offered to learners under the auspices
or direction of school.
Untuk mengakomodasi perbedaan pandangan tersebut,
Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa konsep kurikulum dapat ditinjau dalam
empat dimensi, yaitu:
Kurikulum sebagai suatu ide; yang dihasilkan melalui
teori-teori dan penelitian, khususnya dalam bidang kurikulum dan pendidikan.
Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, sebagai perwujudan dari kurikulum
sebagai suatu ide; yang didalamnya memuat tentang tujuan, bahan, kegiatan,
alat-alat, dan waktu. Kurikulum sebagai suatu kegiatan, yang merupakan
pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis; dalam bentuk praktek
pembelajaran.
Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan
konsekuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan, dalam bentuk ketercapaian
tujuan Kurikulum yakni tercapainya perubahan perilaku atau kemampuan tertentu
dari para peserta didik.
Sementara itu, Purwadi (2003) memilah pengertian
kurikulum menjadi enam bagian :
1)
Kurikulum
sebagai ide;
2)
Kurikulum formal
berupa dokumen yang dijadikan sebagai pedoman dan panduan dalam melaksanakan
kurikulum;
3)
Kurikulum
menurut persepsi pengajar;
4)
Kurikulum
operasional yang dilaksanakan atau dioprasional kan oleh pengajar di kelas;
5)
Kurikulum
experience yakni kurikulum yang dialami oleh peserta didik; dan
6)
Kurikulum yang
diperoleh dari penerapan kurikulum.
Dalam perspektif kebijakan Pendidikan Nasional
sebagaimana dapat dilihat dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20
Tahun 2003 menyatakan bahwa: “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan
sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu”.
B. Landasan
Kurikulum
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai
kedudukan yang cukup sentral dalam seluruh kegiatan pendidikan, menentukan
proses pelaksanaan dan hasil pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum
didalam pendidikan dan perkembangan kehidupan. Penyusunan kurikulum membutuhkan
landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dan
penelitian yang mendalam. Kalau landasan pembuatan sebuah gedung tidak kokoh
yang akan ambruk adalah gedung tersebut, tetapi kalau landasan pendidikan,
khususnya kurikulum yang lemah, yang akan “ambruk” adalah manusianya.
Ada beberapa landasan utama dalam pengembangan suatu kurikulum, yaitu:
a)
Landasan filosofis
Pendidikan
berintikan interaksi antarmanusia, terutama antara pendidik dan terdidik untuk
mencapai tujuan pendidikan. Didalam interaksi tersebut terlibat isi yang
diinteraksikan serta proses bagaimana interaksi tersebut berlangsung. Apakah
yang menjadi tujuan pendidikan, siapa pendidik dan terdidik, apa isi pendidikan
dan bagaimana proses interaksi pendidikan tersebut, merupakan pertanyaan-pertanyaan
yang membutuhkan jawaban yang mendasar, yang esensial yaitu jawaban-jawaban
filosofis.
Secara harfiah filosofis (filsafat) berarti “cinta
akan kebija bkan” (love of wisdom). Orang belajar berfilsafat agar ia menjadi
orang yang mengerti dan berbuat secara bijak. Untuk dapat mengerti kebijakan
dan berbuat secara bijak, ia harus tahu atau berpengetahuan. Pengetahuan
tersebut diperoleh melalui proses berfikir, yaitu berfikir secara sistematis,
logis dan mendalam. Pemikiran demikian dalam filsafat sering disebut sebagai
pemikiran radikal, atau berfikir sampai keakar-akarnya. Berfilsafat diartikan
pula berpikir secara radikal, berpikir sampai keakar. Secara akademik, filsafat
berarti upaya untuk menggambarkan dan menyatakan suatu pandangan yang
sistematis dan komprehensif tentang alam semesta dan kedudukan manusia
didalamnya.
Filsafat
membahas segala permasalahan yang dihadapi oleh manusia termasuk
masalah-masalah pendidikan ini yang disebut filsafat pendidikan. Walaupun
dilihat sepintas, filsafat penidikan untuk memecahkan masalah-masalah
pendidikan, tetapi antara keduanya yaitu antara filsafat dan filsafat
pendidikan terdapat hubungan yang erat. Menurut Donald Butler, filsafat
memberikan arah dan metodologi terhadap praktik pendidikan, sedangkan praktik
pendidikan memberikan bahan-bahan bagi pertimbangan-pertimbangan filosofis.
Keduanya sangat berkaitan erat, bahkan menurut Butler manjadi satu.
1) Philosphy is primary and basic to an educational philosophy, 2)
philosophy is the flower not root of education, 3) educational philosophy is an
independent discipline which might benefit from contact with general
philosophy, but this contact is not essential, 4) philosophy and the theory of
education is one (Butler 1957:
12)
Pendapat para filsuf umumnya memandang filsafat umum
sebagai dasar dari filsafat pendidikan, tetapi John Dewey umpamanya mempunyai
pandangan yang hampir sama dengan Butler. Bagi Dewey, filsafat dan filsafat
pendidikan adalah sama, sebagaimana juga pendidikan menurut Dewey sama dengan
kehidupan. Seperti halnya dalam filsafat umum, setiap pandangan mempunyai
landasan metafisika, epistemologi, dan aksiologi tentang masalah pendidikan
yang berbeda.
Dalam
pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran – aliran filsafat
tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum
yang dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di
bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat,
kaitannya dengan pengembangan kurikulum.
·
Perenialisme
lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada
warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting
dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham
ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat
pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
·
Essensialisme
menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan
keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang
berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai
dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama
halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
·
Eksistensialisme
menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna.
Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini
mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu ?
·
Progresivisme
menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta
didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan
bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
·
Rekonstruktivisme
merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme,
peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang
perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh
menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran
ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan
melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada
proses.
Aliran
Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran
filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum
Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi
pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat
rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum
Interaksional.
Masing-masing
aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena
itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung
dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan
berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat
ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi
pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih
menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.
b) Landasan
psikologis
Dalam proses pendidikan terjadi interaksi antar-individu manusia, yaitu
antar peserta didik dengan pendidik dan juga antara peserta didik dengan
orang-orang yang lainnya. Manusia berbeda dengan benda atau tanaman, karena
benda atau tanaman tidak mempunyai aspek psikologis. Manusia juga lain dari
binatang, karena kondisi psikologis manusia jauh lebih tinggi tarafnya dan
lebih kompleks dibandingkan dengan binatang. Berkat kemampuan-kemampuan
psikologis yang lebih tinggi dan kompleks inilah sesungguhnya manusia menjadi
lebih maju, lebih banyak memiliki kecakapan, pengetahuan, dan keterampilan
dibandingkan dengan binatang.
Apa yang dimaksud dengan kondisi psikologis itu? Kondisi psikologis
merupakan karakteristik psiko-fisik
seseorang sebagai individu, yang dinyatakan dalam berbagi bentuk perilaku dalam
interaksi dengan lingkungannya. Perilaku-perilaku tersebut merupakan
manifestasi dari ciri-ciri kehidupannya, baik yang tampak maupun yang tidak
tampak, perilaku kognitif, efektif, dan psikomotor.
Kondisi psikologis
setiap individu berbeda, karena perbedaan tahap perkembangannya, latar belakang
sosial-budaya, juga karena perbedaan faktor-faktor yang dibawa dari
kelahirannya. Kondisi ini pun berbeda pula bergantung pada konteks, peranan,
dan status individu diantara individu-individu yang lainnya. Interaksi yang
tercipta dalam situasi pendidikan harus sesuai dengan kondisi psikologis para
peserta didik maupun kondisi pendidiknya. Interaksi pendidikan dirumah berbeda
dengan di sekolah, interaksi antara anak dan guru pada jenjang sekolah dasar
berbeda dengan jenjang sekolah lanjutan pertama dan sekolah lanjutan atas.
Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses perkembangan.
Tugas utama yang sesungguhnya dari para pendidik adalah membantu perkembangan peserta
didik secara optimal. Sejak kelahiran sampai menjelang kematian, anak selalu
berada dalam proses perkembangan, perkembangan seluruh aspek kehidupannya.
Tanpa pendidika disekolah, anak tetap berkembang, tetapi dengan pendidikan di
sekolah tahap perkembangannya menjadi lebih tinggi dan lebih luas. Apa yang
dididikkan dan bagaimana cara mendidiknya, perlu disesuaikan dengan pola-pola
perkembangan anak. Karakteristik perilaku individu pada tahap-tahap
perkembangan, serta pola-pola perkembangan individu menjadi kajian psikologi
perkembangan.
Perkembangan atau kemajuan-kemajuan yang dialami anak sebagian besar
terjadi karena usaha belajar, baik berlangsung melalui proses peniruan,
pengingatan, pembiasaan, pemahaman, penerapan, maupun pemecahan masalah. Pendidik
atau guru melakukan berbagai upaya, dan menciptakan berbagai kegiatan dengan
dukungan berbagai upaya, dan menciptakan berbagai kegiatan dengan dukungan
berbagai alat bantu pengajaran agar anak-anak belajar. Cara belajar-mengajar
mana yang dapat memberikan hasil secara optimal serta bagaimana proses
pelaksanaannya membutuhkan studi yang sistematik dan mendalam. Studi yang
demikian merupakan bidang pengkajian dari psikologi belajar.
Nana Syaodih
Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi
yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2)
psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari
tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi
perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan,
aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal
lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi
belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks
belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori
belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang
semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari
pengembangan kurikulum.
Masih berkenaan dengan
landasan psikologis, Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori psikologi yang
mendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dengan mengutip pemikiran Spencer,
Ella Yulaelawati mengemukakan pengertian kompetensi bahwa kompetensi merupakan
“karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan
referensi kriteria yang efektif dan atau penampilan yang terbaik dalam pekerjaan
pada suatu situasi“.
Selanjutnya, dikemukakan pula tentang 5
tipe kompetensi, yaitu :
·
Motif; sesuatu yang dimiliki seseorang
untuk berfikir secara konsisten atau keinginan untuk melakukan suatu aksi.
·
Bawaan; yaitu karakteristik fisik yang
merespons secara konsisten berbagai situasi atau informasi.
·
Konsep Diri; yaitu tingkah laku, nilai
atau image seseorang;
·
Pengetahuan; yaitu informasi khusus yang
dimiliki seseorang; dan
·
Keterampilan; yaitu kemampuan melakukan
tugas secara fisik maupun mental.
Kelima kompetensi tersebut mempunyai
implikasi praktis terhadap perencanaan sumber daya manusia atau pendidikan.
Keterampilan dan pengetahuan cenderung lebih tampak pada permukaan ciri-ciri
seseorang, sedangkan konsep diri, bawaan dan motif lebih tersembunyi dan lebih
mendalam serta merupakan pusat kepribadian seseorang. Kompetensi permukaan
(pengetahuan dan keterampilan) lebih mudah dikembangkan. Pelatihan merupakan
hal tepat untuk menjamin kemampuan ini. Sebaliknya, kompetensi bawaan dan motif
jauh lebih sulit untuk dikenali dan dikembangkan.
Dalam konteks Kurikulum Berbasis
Kompetensi, E. Mulyasa (2002) menyoroti tentang aspek perbedaan dan
karakteristik peserta didik, Dikemukakannya, bahwa sedikitnya terdapat lima
perbedaan dan karakteristik peserta didik yang perlu diperhatikan dalam
Kurikulum Berbasis Kompetensi, yaitu : (1) perbedaan tingkat kecerdasan; (2)
perbedaan kreativitas; (3) perbedaan cacat fisik; (4) kebutuhan peserta didik;
dan (5) pertumbuhan dan perkembangan kognitif.
c)
Landasan
Sosial-Budaya
Kurikulum dapat
dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan,
kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa
pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke
lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun
memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup,
bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.
Peserta didik berasal
dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam
lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan
masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan
dan sekaligus acuan bagi pendidikan.
Dengan pendidikan, kita
tidak mengharapkan muncul manusia – manusia yang menjadi terasing dari
lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat
lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu,
tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan,
kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.
Setiap lingkungan
masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur
pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek
penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur
cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut
dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.
Sejalan dengan
perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut
berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan
dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat.
Israel Scheffer (Nana
Syaodih Sukmadinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia
mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat
peradaban masa yang akan datang.
Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial – budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.
Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial – budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.
d) Landasan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi
Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan
teknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad
pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori
baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus
semakin berkembang.
Akal manusia telah mampu menjangkau
hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Pada jaman dahulu
kala, mungkin orang akan menganggap mustahil kalau manusia bisa menginjakkan
kaki di Bulan, tetapi berkat kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi pada pertengahan abad ke-20, pesawat Apollo berhasil mendarat di
Bulan dan Neil Amstrong merupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki
di Bulan.
Kemajuan cepat dunia dalam bidang
informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada
peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya. Pengaruh ini
terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan
keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara kehidupan yang
berlaku pada konteks global dan lokal.
Selain itu, dalam abad pengetahuan
sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar
sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan
keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih,
sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan
kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn)
dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang
ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian..
Perkembangan dalam bidang Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi
telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum
seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan
sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan
kelangsungan hidup manusia.
`
C.
Komponen
dan Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum
1.
Komponen
kurikulum
Sebelum melaksanakan kegiatan
pengembangan kurikulum, seorang pengembang terlebih dahulu mengenal komponen
atau elemen atau unsur kurikulum yang terdiri dari: tujuan, materi/pengalaman,
belajar, organisasi dan evaluasi.
· Tujuan
Tujuan
sebagai sebuah komponen kurikulum merupakan kekuatan-kekuatan fundamental yang
peka sekali, karena hasil kulikuler yang diinginkan tidak hanya sangat
mempengaruhi bentuk kurikulum, tetapi memberikan arah dan fokus untuk seluruh
program pendidikan (zais, 1976 : 297). Apa yang diutarakan oleh zais mengenai
pentingnya tujuan adalah benar adanya, karena tidak ada satu pun aspek-aspek
pendidikan yang lain bertentangan dengan tujuan. Dalam kenyataannya,
aspek-aspek pendidikan selalu mempertanyakan tentang tujuan. Lebih lanjut zais
(1976 : 307) mengklasifikasikan tujuan menjadi tiga yakni aims, goals, dan
objectives, yang ketigannya merupakan hierarki vertikal. Adanya klasifikasi
tujuan kurikulum seperti diutarakan oleh zais juga tersurat dalam tujuan
kurikulum di indonesia. Hierarki vertikal tuuan kurikulum di indonesia, paling
tinggi adalah tujuan pendidikan nasional, kemudian tujuan kelembagaan, diikuti
tujuan kurikuler, dan tujuan pertngajaran. Tujuan pendidikan nasional merupakan
tujuan kurikulum tertinggi yang bersumber pada falsafah bangsa (pancasila) dan
kebutuhan masyarakat tertuang dalam GBHN dan UU-SPN. Tujuan kelembagaan (
tujuan institusional) merupakan tujuan yang menjabarkan tujuan pendidikan
nasional, bersumber pada tujuan tiap jenjang pendidikan dalam UU-SPN,
karakteristik lembaga, dan kebutuhan masyarakat. Tujuan kurikuler atau tujuan
mata pelajaran/bidang studi dijabarkan dari tujuan kelembagaan, bersumber pada
karakteristik mata pelajaran/bidang studi, karakteristik lembaga, dan kebutuhan
masyarakat. Tujuan yang terbawah dari hierarki tujuan kurikulum di indonesia
adalah tujuan pengajaran, yakni suatu tujuan yang menjabarkan tujuan kurikuler
dan bersumber pada karakteristik mata pelajaran/bidang studi dan karakteristik
siswa.
Tujuan
pengajaran terbagi menjadi dua macam, yakni tujuan umum pengajaran (TUP) dan
tujuan khusus pengajaran (TKP). Apabila dikaji lebih lanjut akan kita temukan
bahwa dalam perumusannya, tujuan tersusun hierarki vertikal dari yang tertinggi
ke yang terendah dan sebaliknya, untuk pencapaiannya secara hierarki vertikal
dari tujuan terendah ke tujuan yang sistematika hierarki tujuan kurikulum di
indonesia. Hierarki tujuan kurikulum secara vertikal di indonesia seperti
terurai sebelumnya, tersurat sampai dengan kurikulum yang disempurnakan (KYD)
SD/SLTP/SLTA tahun 1984/1985 atau 1985/1986. Hierarki tujuan kurikulum secara
vertikal tersebut dapat saja berkembang atau dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan dan/atau perkembangan zaman.
Pengembangan
hierarki kurikulum secara vertikal di
indonesia tertampak dalam draft kurikulum tahun 1994/1995. Hierarki tujuan
kurikulum vertikal yang tersurat dalam draft kurikulum 1994/1995 tersebut
diawali dari tujuan pendidikan nasional, kemudian tujuan kelembagaan, tujuan
kurikuler, tujuan bidang studi, tujuan kelas, dan tujuan catur wulan, serta
tujuan pengajaran. Secara garis besar hierarki tujuan kurikulum dalam draft
kurikulum 1994/1995 tersebut, ditujukan untuk lebih mempertajam hierarki tujuan
kurikulum. Adanya hierarki tujuan kurikulum yang lebih tajam diharapkan dapat
memudahkan guru menjabarkannya.
·
Materi/pengalaman
mengajar
Hal
yang merupakan fungsi khusus dari kurikulum pendidikan formal adalah memilih
dan menyusun isi (komponen kedua dari kurikulum) supaya keinginan tujuan
kurikulum dapat dicapai dengan cara paling efektif dan supaya pengetahuan
paling penting yang diinginkan pada jalurnya dapat disajikan secara efektif
(zais, 1976 : 322). Selain itu untuk mencapai tiap tujuan mengajar yang telah
ditentukan diperlukan bahan ajaran (nana sy. Sumadinata, 1988 : 114). Namun
demikian sebenarnya tidak cukup hanya isi/bahan ajaran saja yang dipikirkan
dalam kegiatan pengembangan kurikulum, lebih dari itu adalah pengalaman belajar
yang mampu mendukung pencapaian tujuan secara lebih efektif. Hal ini berarti
kita memandang kurikulum sebagai suatu
rencana untuk belajar, dan tujuan menentukan belajar apa yang penting, maka
kurikulum secara pasti mencakup seleksi dan organisasi isi/materi dan
pengalaman belajar (taba, 1963 : 266). Isi atau materi kurikulum adalah semua
pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, dan sikap yang terorganisasi dalam mata
pelajaran/bidang studi. Sedangkan pengalaman belajar dapat diartikan sebagai
kegiatan belajar tentang atau belajar bagaimana disiplin berfikir dari suatu
disiplin ilmu. Dengan demikian jelaslah bahwa baik materi/isi kurikulum dan
pengalaman belajar harus dipikirkan dan dikaji serta diorganisasikan dalam
pengembangan kurikulum. Pentingnya materi/isi kurikulum dan pengalaman belajar
dapat kita lihat pada pernyataan taba (1962 : 263) berikut ini : “selecting the
content, with accompanying learning experiences, is one of the two central
decision in curriculum making, and therefore rational method of going about it
is a matter of great concent.”
·
Organisasi
Perbedaan
antara belajar di sekolah dan belajar dalam kehidupan adalah dalam hal
pengorganisasian secara formal di sekolah. Jika kurikulum merupakan suatu
rencana untuk belajar maka isi dan pengalaman belajar membutuhkan
pengorganisasian sedemikian rupa sehingga berguna bagi tujuan-tujuan pendidikan (taba, 1962 :
290). Berdasarkan pendapat taba tersebut, jelas bahwa materi dan pengalaman
belajar dalam kurikulum diorganisasikan
untuk mengefektifkan pencapaian tujuan. Namun demikian, perlu kita
sadari bahwa pengorganisasian kurikulum merupakan kegiatan yang sulit dan
kompleks, sukar dan kompleksnya pengorganisasian kurikulum dikarenakan kegiatan
bertalian dengan aplikasi semua pengetahuan yang ada tentang pertumbuhan dan
perkembangan peserta didik, dan masalah proses pembelajaran (sumantri, 1988 :
23). Masalah-masalah utama organisasi kurikulum berkisar pada ruang lingkup
(scope), sekuensi, kontinuitas, dan integral.
·
Evaluasi
Evaluasi
merupakan komponen keempat kurikulum, mungkin merupakan aspek kegiatan
pendidikan yang dipandang paling kecil (zais, 1976 : 369). Evaluasi ditujukan
untuk melakukan evaluasi terhadap belajar siswa (hasil dan proses) maupun
keefektifan kurikulum dan pembelajaran. Lebih lanjut zais (1976 : 378)
mengemukakan evaluasi kurikulum secara luas merupakan suatu usaha sangat besar
yang kompleks yang mencoba menantang untuk mengkodifikasi proses salah satu
dari istilah sekuensi atau komponen-komponen. Evaluasi kurikulum secara luas
tidak hanya menilai dokumen tertulis, tetapi yang lebih penting adalah
kurikulum yang diterapkan sebagai bahan-bahan fungsional dari kejadian-kejadian
yang meliputi interaksi siswa, guru, material, dan lingkungan. Adapun peran
evaluasi dalam kurikulum secara keseluruhan, baik evaluasi belajar siswa maupun
keefektifan kurikulum dan pembelajaran, dapat digunakan sebagai landasan
pengembangan kurikulum. Dari uraian tentang evaluasi ini, jelaslah evaluasi
bukanlah komponen atau kegiatan pendidikan yang kecil. Sebagai komponen
kurikulum, evaluasi merupakan bagian integral dari kurikulum. kegiatan evaluasi
akan memberikan informasi dan data tentang perkembangan belajar siswa maupun
keefektifan kurikulum dan pembelajaran, sehingga dapat dibuat
keputusan-keputusan pembelajaran dan pendidikan secara tepat.
2.
Prinsip-Prinsip
Pengembangan Kurikulum
Ada berbagai prinsip pengembangan
kurikulum yang merupakan kaidah yang menjiwai kurikulum tersebut. Pengembangan
kurikulum dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang di dalam
kehidupan sehari-hari atau menciptakan prinsip-prinsip baru. Sebab itu, selalu
mungkin terjadi suatu kurikulum menggunakan prinsip-prinsip berbeda dengan yang
digunakan kurikulum lain (Depdikbud, 1982 : 27).
Prinsip-prinsip
yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya
merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam
pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang
dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip
baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan
sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum
yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak
sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum. Dalam
hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip
pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok : (1) prinsip –
prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas;
(2) prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan,
prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan
pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan
alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam
pengembangan kurikulum, yaitu :
·
Prinsip relevansi; apabila pengembang kurikulum melaksanakan pengmbangan kurikulum dengan
memillih jabatan komponen-komponen kurikulum agar sesuai (relevan) dengan
berbagai tuntutan, maka pada saat itu ia sedang menerapkan prinsip relevansi
pengembangan kurikulum. relevansi berarti sesuai antara komponen tujuan,
isi/pengalaman belajar, organisasi, dan evaluasi kurikulum, dan juga sesuai
dengan kebutuhan masyarakat yang diidealkan. Secara internal bahwa kurikulum
memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan,
strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa
komponen-komponen tersebut memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan
dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik
(relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat
(relevansi sosilogis).
·
Prinsip fleksibilitas; para pengembang kurikulum harus menyadari bahwa
kurikulum harus mampu disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat dan waktu
yang selalu berkembang tanpa merombak tujuan pendidikan yang harus dicapai
(depdikbud, 1982 : 27). Selain itu, perlu disadari juga bahwa kurikulum
dimaksudkan untuk mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan
datang, disini dan ditempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan
kemampuan berbeda (Nana Sy. Sukmadinata, 1988 : 168). Dari uraian sebelumnya,
jelas bahwa dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan
memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya
penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang
selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.
·
Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun
secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum
harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar
jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
·
Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan
waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat
sehingga hasilnya memadai.
· Prinsip
efektivitas; yakni
mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa
kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Terkait
dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat sejumlah
prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :
1.
Berpusat pada
potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan
lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik
memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan
kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan,
dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
2.
Kurikulum
dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik,
kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama,
suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender.
Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan
pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan
kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
3.
Tanggap terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas
dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara
dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik
untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni.
4.
Relevan dengan
kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan
pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan
kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha
dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi,
keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan
keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
5.
Menyeluruh dan berkesinambungan.
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian
keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara
berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
6.
Belajar
sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan
dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum
mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan
informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu
berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
7.
Seimbang antara
kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan
memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan
kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto
Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemenuhan
prinsip-prinsip di atas itulah yang membedakan antara penerapan satu Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan dengan kurikulum sebelumnya, yang justru tampaknya
sering kali terabaikan. Karena prinsip-prinsip itu boleh dikatakan sebagai ruh
atau jiwanya kurikulum. Dalam mensikapi suatu perubahan kurikulum, banyak orang
lebih terfokus hanya pada pemenuhan struktur kurikulum sebagai jasad dari
kurikulum . Padahal jauh lebih penting adalah perubahan kutural (perilaku) guna
memenuhi prinsip-prinsip khusus yang terkandung dalam pengembangan kurikulum.
D. Model-Model
Pengembangan Kurikulum
Untuk
melakukan pengembangan kurikulum ada berbagai model pengembangan kurikulum yang
dapat dijadikan acuan atau diterapkan sepenuhnya. Model-model pengembangan
kurikulum tersebut sering kali dinamakan dengan nama ahli yang melontarkan
gagasan tentang model pengembangan kurikulum tersebut. Berikut ini beberapa
model pengembangan kurikulum, yaitu:
a)
Model Pengembangan Kurikulum Rogers
Ada beberapa model yang dikemukakan Rogers, yaitu
jumlah dari model yang paling sederhana sampai dengan yang berikutnya,
sebenrnya merupakan penyempurnaan dari model-model sebelumnya. Adapun
model-model tersebut (ada empat model) dapat dikemukakan sebagai berikut :
Model I. Model yang paling sederhana yang menggambarkan bahwa kegiatan pendidikan
semata-mata terdiri atas kegiatan memberikan informasi (isi pelajaran). Hal ini
didasarkan pada asumsi bahwa pendidikan adalah evaluasi dan evaluasi adalah
pendidikan, serta pengetahuan adalah akumulasi materi dan informasi, model
tersebut merupakan model tradisional yang masih dipergunakan. Model I ini
mengabaikan cara-cara (metode) dalam proses berlangsungnya kegiatan belajar
mengajar dan urutan atau organisasi bahwa pelajaran secara sistematis, suatu
hal yang seharusnya dipertimbangkan juga.
Model II. Model ini dilakukan dengan menyempurnakan model I dengan menambahkan
kedua jawaban pada pertanyaan (3 dan 4) tersebut, yaitu tentang metode dan
organisasi bahan pelajaran.
Dalam pengembangan kurikulum pada Model II di atas,
sudah dipikirkan pemilihan metode yang efektif bagi berlangsungnya proses
pengajaran. Di samping itu, bahan pelajaran juga sudah disusun secara
sistematis, dari yang mudah ke yang lebih sukar dan juga memperhatikan luas dan
dalamnya suatu bahan pelajaran. Akan tetapi, Model II belum memperhatikan
masalah teknologi pendidikan yang sangat menunjang keberhasilan kegiatan
pengajaran. Teknologi pendidikan yang dimaksud adalah berkaitan dengan
pertanyaan-pertanyaan :
1)
Buku-buku
pelajaran apakah yang harus dipegrunakan dalam suatu mata pelajaran?
2)
Alat atau media
pengakaran apa yang dapat dipergunakan dalam mata pelajaran tertentu.
Model III. Pengembangan kurikulum ini merupakan penyempurnaan Model II yang belum
dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan 5 dan 6, yaitu dengan memasukkan
unsur teknologi pendidikan ke dalamnya. Pengembangan kurikulum yang
berorientasi pada bahan pelajaran hanya akan sampai pada Model III. Padahal
masih ada satu lagi masalah pokok yang harus diperhatikan, yaitu yang berkaitan
dengan masalah tujuan.
Model IV. Merupakan penyempurnaan Model III, yaitu dengan memasukkan tujuan ke
dalamnya. Tujuan itulah yang bersifat mengikat semua komponen yang lain, baik
metode, organisasi bahan, teknologi pengajaran, isi pelajaran maupun kegiatan
penilaian yang dilakukan.
b) Model Administratif
Model pengembangan kurikulum ini merupakan model
paling lama dan paling banyak dikenal. Model administratif sering pula disebut
sebagai model “garis staf” (line staff) atau “dari atas ke bawah” (top down),
karena inisiatif dan gagasan dari pada administrator pendidikan dan menggunakan
prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, administrator
pendidikan (dirjen, direktur atau kakanwil pendidikan dan kebudayaan) membentuk
suatu komisi atau tim pengarah pengembangan kurikulum, yang anggotanya terdiri
atas pejabat di bawahnya, para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli
disiplin ilmu, tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Tugasnya komisi atau tim
ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan dan
strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Setelah hal-hal mendasar ini
terumuskan dan mendapatkan pengkajian yang seksama, administrator pendidikan
menyisin komisi atau tim kerja pengembangan kurikulum. Tugas tim kerja ini
adalah untuk merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional dari tujuan umum,
memilih dan menyusun sekuens bahan pelajaran, memilih strategi pengajharan dan
evaluasi serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum tersebut bagi
pengajar.
Setelah semua tugas ini dari tim kerja selesai,
hasilnya dikai ulang oleh tim pengarah untuk mendapatkan penyempurnaan, dan
jika dinilai telah cukup baik, administrator menetapkan berlakunya kurikulum
tersebut dan memerintahkan sekolah-sekolah untuk melaksanakan kurikulum
tersebut. Model kurikulum seperti ini mudah dilaksanakan pada negara yang
menganut sistem sentralisasi dan negara yang kemampuan profesional tenaga
pengajarnya masih rendah.
c)
Model dari Bawah (The Grass Roots Model)
Model dari bawah ini merupakan lawan dari model
administratif. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum berasal dari bawah,
yaitu para pengajar yang merupakan pelaksana kurikulum di sekolah-sekolah.
Model ini mendasar pada anggapan bahwa penerapan suatu kurikulum akan lebih
efektif jika para pelaksananya diikutsertakan pada kegiatan pengembangan
kurikulum.
Pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum model
ini adalah pengembangan kurikulum secara demokratis yaitu berasal dari bawah.
Guru adalah perencana, pelaksana dan juga penyempurna dari pengajaran di
kelasnya, guru yang paling tahu kebutuhan kelasnya. Oleh karena itu, dialah
yang kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.
Keuntungan model ii adalah proses pengambilan
keputusan terletak pada para pelaksana, mengikutsertakan berbagai pihak bawah
khususnya para pengajar.
Pengembangan kurikulum model dari bawah ini menuntut
adanya kerjasama antar guru, antar sekolah-sekolah, serta harus ada kerjasama
antar pihak orang tua murid dan masyarakat. Model grass roots akan berkembang
dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Pengembangan atau
penyempurnaan ini dapat berkenan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau
beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen
kurikulum.
Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi
dengan model ini memungkinkan terjadinya kompetisi didalam meningkatkan mutu
dan sistem pendidikan sehingga dapat melahirkan manusia yang lebih mandiri dan
kreatif.
d) Model
Beauchamp (Beauchamp’s System)
Sesuai dengan namanya, model ini diformulasikan oleh
G.A. Beauchamp’s (1964), ia mengemukakan lima hal penting dalam pengembangan
kurikulum, yaitu :
1)
Menetapkan
“arena atau lingkup wilayah” yan akan dicakup oleh kurikulum tersebut,m yaitu
berupa kelas, sekolah, sistem persekolahan regional atau nasional.
2)
Menetapkan
personalia, yaitu siapa-siapa yang turut serta terlibat dalam pengembangan
kurikulum. Ada empat kategori orang yang turut berpartisipasi dalam
pengembangan kurikulum, yaitu : (1) para ahli pendidikan/kurikulum dan para
ahli bidang dari luar, (2) para ahli pendidikan dari perguruan tinggai atau
sekolah dan guru-guru terpilih, (3) para profesional dalam sistem pendidikan,
(4) profesional lain dan tokoh-tokoh masyarakat.
3)
Organisasi dan
prosedur pengembangan kurikulum. Langkah ini untuk merumuskan tujuan umum dan
tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, kegiatan evaluasi dan
menentukan seluruh desain kurikulum. Beauchamp membagi kegiatan ini dalam lima
langkah, yaitu (1) membentuk tim pengembang kurikulum, (2) mengadakan penilaian
atau penelitian terhadap kurikulum yang digunakan, (3) studi penjajagan tentang
kemungkinan penyusunan kurikulum baru, (4) merumuskan kriteria-kriteria bagi
penentuan-penentuan kurikulum baru, (5) penyusunan dan penulisan kurikulum bru.
4)
Implementasi
kurikulum. Langkah ini merupakan langkah mengimplementasikan atau melaksanakan
kurikulum secara sistematis di sekolah.
5)
Evaluasi
kurikulum. Merupakan langkah terakhir yang mencakup empat hal, yaitu : (1)
evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru, (2) evaluasi desain
kurikulum, (3) evaluasi hasil belajar siswa, (4) evaluasi dari keseluruhan
sistem kurikulum. Data yang diperoleh dari hasil kegiatan evaluasi ini
digunakan bagi penyempurnaan sistem dan desain kurikulum serta prinsip
pelaksanaannya.
e)
Model Terbaik Hilda Taba (Taba’s Inverted Model)
Model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh
Taba berbeda dengan cara lazim yang bersifat deduktif karena caranya yang
bersifat induktif. Itulah sebabnya model ini disebut “model terbalik”. Ada lima
langkah pengembangan kurikulum model taba ini, yaitu :
1)
Mengadakan
unit-unit eksperimen kerjasama guru-guru. Didalam unit eksperimen ini diadakan
studi yang seksama tentang hubungan antara teori dan praktek. Ada delapan
langkah kegiatan dalam unit eksperimen ini : (1) mendiagnosis kebutuhan, (2)
merumuskan tujuan khusus, (3) memilih isi, (4) mengorganisasi isi, (5) memilih
pengalaman belajar, (6) mengorganisasi pengalaman belajar, (7) mengevaluasi,
(8) melihat sekuens dan keseimbangan.
2)
Menguji unit
eksperimen. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui validitas dan
kepraktisannya untuk kelas-kelas atau tempat lain.
3)
Mengdakan revisi
dan konsolidasi terhadap hasil unit eksperimen
4)
Menyusun
kerangka kerja teoritis. Perkembangan yang dipergunakan untuk melakukan
kegiatan yang berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan apa isi unit-unit yang
disusun secara berurutan itu telah berimbang ke dalamnya dan keluasannya, dan
apakah pengalaman belajar telah memungkinkan belajarnya kemampuan intelektual
dan emosional.
5)
Menyusun
kurikulum, yang dikembangkan secara menyeluruh dan mendiseminasikan (menerapkan
kurikulum pada daerah atau sekolah yang lebih luas).
Pengembangan kurikulum realitas dengan pelaksanaannya,
yaitu melalui pengujian terlebih dahulu oleh staf pengajar yang profesional.
Dengan demikian, model ini benar-benar memadukan teori dan praktek.
f)
The Systemic Action-Research Model
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi ahwa
perkembangan kurikulu merupakan perubahan sosial. Hal ini mencakup suatu proses
yang melibatkan kepribadian orang tua, siswa, guru, struktur sistem sekola,
pola hubungan pribadi dan kelompok dari sekolah dan masyarakat. Sesuai dengan
asumsi tersebut, model ini menekankan pada tiga hal, yaitu : hubungan insani,
sekolah dan organisasi masyarakat serta wibawa dari pengetahuan profesional.
Penyusunan kurikulum dengan memasukkan pandangan dan harapan masyarakat, dan
salah satu cara untuk mencapai hal itu adalah dengan prosedur action-research.
Langkah pertama, mengadakan kajian secara seksama
tentang masalah kurikulum, berupa pengumpulan data yang bersifat menyeluruh,
mengidentifikasi faktor-faktor, kekuatan dan kondisi yang mempengaruhi masalah
tersebut. Dari hasil kajian itu, disusun rencana menyeluruh tentang cara-cara
mengatasi masalah dan tindakan apa yang harus diambil.
Langkah kedua, mengimplementasi dari keputusan yang
diambil dengan kegiatan mengumpulkan data dan fakta. Kegiatan ini mempunyai
beberapa fungsi yaitu : (1) menyiapkan data bagi evaluasi tindakan, (2) sebagai
bahan pemahaman tentang masalah yang dihadapi, (3) sebagai bahan untuk menilai
kembali dan mengadakan modifikasi, (4) sebagai bahan untuk menentukan tindakan
lebih lanjut.
g)
Emerging Technical Models
Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan
seerta nilai-nilai efisiensi dan efektivitas dalam bisnis, juga mempengaruhi
perkembangan model kurikulum. Tumbuh kecenderungan baru yang didasarkan atas
hal itu, diantaranya :
1)
The
Behavioral Analysis Model.
Menekankan penguasaan perilaku atau kemampuan. Suatu perilaku / kemampuan yang
kompleks diuraikan menjadi perilaku yang sederhana yang tersusun secara
hirarkis.
2)
The System
Analysis Model. Berasal dari
gerakan efisiensi bisnis. Langkah pertama model ini adalah menentukan
spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dikuasi siswa. Langkah kedua
menyusun instrumen untuk menilai ketercapaian hasil belajar tersebut. Langkah
ketiga mengidentifikasi tahap-tahap hasil yang dicapai serta perkiraan biaya
yang diperlukan. Langkah keempat membandingkan biaya dan keuntungan dari
beberapa program pendidikan.
3)
The
Computer-Based Model. Suatu
pengembangan kurikulum dengan memanfaatkan komputer. Pengembangannya dimulai
dengan mengidentifikasi seluruh unit kurikulum, tiap unit kurikulum telah
memiliki rumusan tentang hasil yang diharapkan. Kepada para siswa dan guru
diminta untuk melengkapi pertanyaan tentang unit kurikulum tersebut. Setelah
diadakan pengolahan disesuaikan dengan kemampuan dan hasil belajar siswa
disimpan dalam komputer.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
§ KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oeh dan
dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dan tujuan
pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan KTSP, kalender
pendidikan, silabus.
§ KTSP merupakan batu loncatan kemajuan pendidikan.
Dengan kebijakan baru ini, sekolah bisa membuat silabus, kurikulum. dan
indikator-indikatornya sendiri. Mesti menentukan silabusnya sendiri namun
standar kompetensi dan isinya harus sesuai dengan yang telah ditetapkan
pemerintah.
§ KTSP merupakan pengembangan dan penyempurnaan dan kurikulum
sebelumnya yaitu kurikulum 2004 (KBK), yang dikembangkan oleb satuan pendidikan
berdasarkan standar isi (SI), dan standar Kompetensi Lululsan (SKL) yang
terdapat pada KBK.
§ KTSP merupakan salah satu bentuk realisasi kebijakan,
desentralisasi di bidang pendidikan agar kurikulum benar-benar sesuai dengan
kebutuhan pengembangan potensi peserta didik di sekolah yang bersangkutan di
masa sekarang dan yang akan dating dengan mempertimbangkan kepentingan lokal, nasional,
dan tuntutan global dengan semangat Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
§ Pendidikan
merupakan investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai
yang tinggi bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Hampir semua negara
di dunia menempatkan pendidikan sebagai suatu yang penting dan utama dalam
pembangunan bangsa dan negara. Begitu pula Indonesia menempatkan pendidikan
sebagai sesuatu yang penting dan utama, hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan
nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mencapai ke arah itu,
kurikulum dan peran guru sangat menentukan keberhasilan pendidikan, karena
kurikulum berjalan. sedangkan kurikulum adalah seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran pada KTSP ada beberapa
alasan yang menjadi pilihan dalam upaya perbaikan kondisi pendidikan dalam
upaya perbaikan kondisi pendidikan di tanah air, salah satunya adalah potensi
siswa itu berbeda-beda dan potensi tersebut akan berkembang jika stimulusnya
tepat dan mutu hasil pendidikan yang masih rendah serta mengabaikan aspek-aspek
moral, akhlak, budi pekerja seni dan olahraga serta life skill.
Selain
itu kurikulum harus mempunyai tujuan yang ingin di capai baik yang bersifat
kongkrit maupun abstrak dan berbagai konsepsinya seperti yang disebutkan di
atas, sehingga hakekat kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan
benar-benar terwujud.
B. Saran
1)
Penerapan KTSP
dalam aktivitas KBM, diperlukan latihan-latihan, bimbingan dan pengembangan
kurikulum sekolah. Jika tidak. malah akan merugikan sekolah. yang perlu
dipahami. selama mi guru tidak disiapkan untuk menjadi pengembang kurikulum.
Karenanya penting sekali diberikan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Tanpa
bimbingan akan muncul musibah, yakni sekolah pada tataran menengah atau
pas-pasan. Jangan sampai sekolah menjadi katak dalam tempurung.
2)
Impelementasi
KTSP membutuhkan penciptaan iklim pendidikan yang memungkinkan tumbuhnya
semangat intelektual dan ilmiah bagi setiap guru. Diharapkan guru dapat
melakukan inovasi-inovasi kreaitif dalam bentuk penelitian tindakan terhadap
berbagai teknik atau model pengelolaan pembelajaran yang mampu menghasilkan
lulusan yang kompoten. Untuk menjamin mutu KTSP, perlu adanya strategi
operasional penjaminan mutu KTSP. Di masa mendatang perlu diadakan audit mutu
ke sekolah-sekolah pasca diterapkannya KTSP.
3)
Dalam menentukan
arah pendidikannya, sekolah perlu melakukan kajian-kajian dan penyempurnaan
sesuai dengan antisipasi berbagai perkembangan dan perubahan.diharapkan sekolah
dan komite sekolah atau forum orang tua murid mampu mengembangkan KTSP
berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan yang disusun
sendiri berdasarkan kebutuhan sekolah dan murid.
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati,
Mudjiono. 2009. Belajar dan pembelajaran.
Jakarta: Rineka Cipta
Sukmadinata,
Nana Syaodih. 1997. Pengembangan
Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/22/landasan-kurikulum/
Muslich, Masnur.2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta:
Bumi Aksara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Moho Saran yang mendukung....,