Selasa, 13 Desember 2011

Pendekatan CBSA dan Keterampilan Proses Pembelajaran


TUGAS PSIKOLOGI BELAJAR
PENDEKATAN CBSA
DAN KETERAMPILAN PROSES PEMBELAJARAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Psikologi Belajar
Dosen Pengampu : Joko Siswono, M.Pd



 











Disusun Oleh :
Muclis Zaenul Ihsan (10310026)
Anna Shofiana (10310040)
Nur Liana (10310028)
Nurul Fatimah (10310029)
Ria Rosyada (10310041)


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA
DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
“PENDIDIKAN MATEMATIKA”
IKIP PGRI SEMARANG 2010/2011
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah swt. yang telah memberikan segala nikmatnya kepada hamba-hambanya dan oleh karena itu makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik walaupun dalam penulisan ini masih begitu banyak kekurangannya.
Dan kami ucapakan rasa terima kasih kami kepada kedua orang tua kami yang selalu memberi kami semangat dalam menuntut ilmu yang pada akhirnya memberikan semangat motivasi kami dalam menuntut ilmu.
Adapun isi makalah ini menyinggung tentang penyelenggaraan pembelajaran merupakan salah satu tugas utama guru, di mana pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Untuk dapat membelajarkan siswanya, salah satu cara yang dapat ditempuh oleh guru ialah dengan menerapkan pendekatan CBSA dan pendekatan keterampilan proses (PKP) dalam pembelajaran. Baik CBSA maupun PKP merupakan pendekatan pembelajaran yang tersurat dan tersirat dalam kurikulum yang berlaku.
Kemudian kami sebagai penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih jauh sekali dari kesempurnaan, baik dari isi dan penyajian. Untuk itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk menuju kesempurnaan dalam penulis ini. Semoga hadirnya makalah yang sederhana ini memberi mamfaat untuk pembaca dan terutama untuk penulis.


Penulis







Daftar Isi


KATA PENGANTAR .....................................................................................    i

DAFTAR ISI .....................................................................................................    ii

BAB I. PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang ........................................................................................    1

B.     Rumusan Masalah ...................................................................................    2

C.     Tujuan .....................................................................................................    2

BAB II. PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pendekatan CBSA ................................................................    3

B.     Dasar-Dasar Pendekatan CBSA .............................................................    4

C.     Perlunya CBSA Dalam Pengajaran ........................................................

D.    Penerapan CBSA Dalam Pembelajaran ..................................................

E.     Prinsip-Prinsip CBSA .............................................................................

BAB III. PENUTUP

A.    Kesimpulan .............................................................................................

B.     Saran .......................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA  .....................................................................................


BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Jika kita tinjau perkembangan dan pertumbuhan seseorang, maka makin jelaslah bahwa hidup seseorang didalam lingkungan yang berbudaya itu merupakan suatu perjuangan dari seseorang untuk hidup dengan hak asasi manusiawi dalam menyatakan dirinya, mahkluk yang berkehendak berdiri sendiri. Makin aktif ia berikan konstribusi dalam lingkungan sosialnya, makin ia menjalin ikatan dan menerima norma dari lingkungan, makin meningkatatkan aspirasi-aspirasi dalam mempersoalkan kepentingan untuk mencapai cita-citanya dalam mewujudkan dirinya (self actualization), mengacu kepada kemandirian.
Manusia hidup antara dua kutub existensi sosial (lingkungan) dan kutub existensi individu, yang satu dengan yang lain saling terjalin dalam dirinya (idividualisasi dan sosialisasi). Pada satu pihak ia berhak mengemukakan dirinya atau kutub existensi individual ingin dihargai dan diakui, tetapi pada pihak lain ia harus menyesuaikan diri pada ketentuan-ketentuan yang berlaku di dalam masyarakat, di dalam lingkungan sosialnya (kutub existensi sosial). Bila antar kedua kutub ini ada keseimbangan, maka ia akan mencapai suatu kondisi mental sehat, tetapi bukan semata-mata keseimbangan inilah yang merupakan makna hidup. Pada umumnya manusia beraspirasi dan dalam mewujudkan aspirasi itu ada suatu jarak yang ditempuh oleh setiap orang, yaitu jarak potensi yang dimiliki dan apa yang ingin dicapainya, jarak antara mengenal diri sebagai mana ia adanya, prestasinya (konsep diri) dan sebagaimana ia ingin menjadi.
Mendidik pada hakikatnya merupakan bantuan untuk mencapai perkembangan dalam mewujudkan dirinya, tanpa mengabaikan kepentingan lingkunganya dalam perkembangan tersebut seperti tercentus di dalam perumusan GBHN yang bertolak dari UUD 1945 dalam kehidupan pancasila maka manusia indonesia seutuhnya mencakup kemandirian dan kemampuan untuk ikut bertanggungjawab terhadap pembangunan bangsanya. Ini berati bahwa cara-cara pemberian informasi itu dan suasana interaksi itu berlangsung lebih penting daripada informasi itu sendiri. Disinilah proses menjadi sarana tidak saja meningkatakan cara belajar siswa aktif.



B.        RUMUSAN MASALAH
1.      Apa Pengertian Pendekatan CBSA?
2.      Apa Dasar-Dasar Pendekatan CBSA?
3.      Apa Perlunya CBSA Dalam Pengajaran?
4.      Bagaimana Penerapan CBSA Dalam Pembelajaran?
5.      Apa Prinsip-Prinsip CBSA?

C.       TUJUAN
1.      Untuk Mengetahui Apa Yang Dimaksud Pendekatan CBSA.
2.      Untuk Mengetahui Dasar-dasar Pendekatan CBSA.
3.      Agar Dapat Memahami Tentang Bagaimana Penerapan CBSA dalam Pembelajaran.
4.      Untuk Mengetahui Seberapa Perlunya CBSA dalam Pengajaran.
5.      Untuk Mengetahui Prinsip-prinsip CBSA.


BAB II
PEMBAHASAN

A.       Pengertian Pendekatan CBSA
Setiap proses pembelajaran pasti menampakkan keaktifan orang yang belajar atau siswa. Pernyataan ini tidak dapat kita bantah atau kita tolak kebenarannya. Adanya kenyataan ini, menyebabkan sulitnya mendefinisikan pengertian pendekatan CBSA secara tepat. Kepastian adanya keaktifan siswa dalam setiap proses pembelajaran, memberikan kepastian kepada kita bahwa pendekatan CBSA bukanlah suatu hal yang dikotomis. Hal ini berarti, setiap peristiwa pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru dapat dipastikan adanya penerapan pendekatan CBSA dan tidak mungkin tidak terjadi penerapan pendekatan CBSA dalam peristiwa pembelajaran.
Keaktifan siswa dalam peristiwa pembelajaran mengambil beraneka bentuk kegiatan, dari kegiatan fisik yang mudah diamati sampai kegiatan psikis yang sulit diamati. Kegiatan fisik yang dapat diamati di antaranya dalam bentuk kegiatan membaca, mendengarkan, menulis, meragakan, dan mengukur. Sedangkan contoh-contoh kegiatan psikis seperti mengingat kembali isi pelajaran pertemuan sebelumnya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, menyimpulkan hasil eksperimen, membandingkan satu konsep dengan konsep yang lain, dan kegiatan psikis lainnya. Namun demikian, semua kegiatan tersebut harus dapat dipulangkan kepada suatu karakteristik, yaitu keterlibatan intelektual-emosional sisw dalam kegiatan pembelajaran. Keterlibatan tersebut terjadi pada waktu kegiatan kognitif dalam pencapaian atau perolehan pengetahuan, pada saat siswa mengadakan latihan- latihan dalam pembentukan keterampilan, dan sewaktu siswa menghayati dan menginternalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai. Dengan kata lain, keaktifan dalam pendekatan CBSA menunjuk kepada keaktifan mental, baik intelektual maupun emosional, meskipun untuk merealisasikan dalam banyak hal dipersyaratkan atau dibutuhkan keterlibatan langsung dalam berbagai bentuk keaktifan fisik.
Semua guru profesional dituntut terampil mengajar tidak semata-mata hanya menyajikan materi ajar. Guru dituntut memiliki pendekatan mengajar sesuai dengan tujuan instruksional. Menguasai dan memahami materi yang akan diajarkan agar dengan cara demikian pembelajar akan benar-benar memahami apa yang akan diajarkan. Piaget dan Chomsky berbeda pendapat dalam hal hakikat manusia. Piaget memandang anak akalnya sebagai agen yang aktif dan konstruktif yang secara perlahan-lahan maju dalam kegiatan usaha sendiri yang terus-menerus. Pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) menuntut keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari.
Pendekatan CBSA menuntut keterlibatan mental vang tinggi sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomolorik. Melalui proses kognitif pembelajar akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip. Konsep CBSA yang dalam bahasa Inggris disebut Student Active Learning (SAL) dapat membantu pengajar meningkatkan daya kognitif pembelajar. Kadar aktivitas pembelajar masih rendah dan belum terpogram. Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara bersama-sama.
Berdasarkan dalam uraian diatas, dapatlah kiranya kita mengambil kesimpulan mengenai pengertian pendekatan CBSA. Dimana pendekatang CBSA dapat diartikan sebagai pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Pelibatan intelektual-emosional/fisik siswa serta optimalisasi dalam pembelajaran, diarahkan untuk membelajarkan siswa bagaimana belajar memperoleh dan memproses perolehan belajarnya tentang pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai.



Daftar Pustaka

Cony Semiawan, dkk.. 1986. Pendekatan Keterampilan Proses: Bagaimana Siswa Dalam Belajar. Jakarta : PT Gramedia.
Dimyati. Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Moho Saran yang mendukung....,

Entri Populer